UAN2 2008 dipenuhi dengan pemberitaan yang cukup menggemparkan salah satunya adalah penangkapan para guru oleh Detasemen 888. detasemen 88 yang basa bertugas dalam aksi penangkapan teroris sekarang beralih objek kepada guru yang melakukan “kecurangan”. Kasus kecurangan dalam ujian adalah salah satu kasus dimamna kebiasaan mencontek menjadi sangat jelas untuk diamati. Lebih jauh lagi, kebiasaan mencontek terjadi dalam kegiatan-kegiatan sekolah lainnya baik mencontek pekerjaan rumah, laporan praktikum, dan lain-lain.
Padahal jauh sebelum indonesia merdeka, sedikit sekali atau bahkan tidak ada pelajar berperilaku seperti ini. Mereka sangat paham dan memanfaatkan segala potensi dalam diri mereka sehingga orang-orang zaman dahulu pintar-pintar. Pintar disini berarti bukan hanya pintar secara akademik tetapi juga moralnya.
Akan tetapi, perilaku semacam itu sepertinya saat ini sudah bukan rahasia umum lagi. Bahkan mungkin menjadi kebiasaan. Sebenarnya pelaku sudah mengeri apa dampak dari perilaku tersebut. Bahkan jika dibandingkan dengan seksama, keuntungannya tidak jauh lebih banyak dari dampak negatifnya. Atau bahkan tidak ada untungnya. Mereka tidak paham terhadap segala potensi yang mereka miliki sehingga mereka selalu mengandalkan orang lain. Padahal jika mereka tahu dan memanfaatkan potensi itu, mereka tidak perlu mengandalkan orang lain. Hal inilah yang menjadi hambatan dan godaan bagi mereka.
Bila seorang pelaku ditanya tujuan mereka mencontek maka jawaban yang paling umum terjadi tentulah untuk mendapatkan nilai ujian yang baik karena ingin sukses. Padahal, dengan nilai bagus saja tidak cukup untuk mencapai kesuksesan, tetapi juga potensi dalam diri sendiri. Seperti pada sistem evaluasi EBTANAS yang dulu masih menggunakan evaluasi kuantitatif, tetapi dalam EBTANAS tidak mengenal istilah kelulusan sekolah. Meskipun peserta EBTANAS mendapatkan nilai minim atau tidak lulus ujian tetapi masih dapat meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Karena sistem EBTANAS melihat proses siswa bukan hasil siswa. Lain halnya dengan UAN yang sekarang koran-koran banyak dipenuhi dengan berita kontroversial tentang kebiasaan tersebut.
Siswa yang kontra terhadap kebiasaan ini menganggap banyak ketidakadilan terjadi akibat mencontek. Mereka yang merasa bisa mengerjakan soal tetapi tidak mendapat hasil yang setara. Sedangkan mereka yang belum mampu tetapi mendapat nilai maksimal hanya karena mereka telah mempraktikan perilaku tersebut. Hal tersebut tidak akan terjadi jika kita mengamalkan suatu hal bahwa kesuksesan tidak ada tanpa perjuangan dan doa. Jika ingin hasil baik, kita pun harus berusaha dengan baik dan tidak ada saat untuk bermalas-malasan. Pahami juga potensi terbesar apa dalam diri kita, lalu kembangkan potensi tersebut menurut minat kita masing-masing sehingga kita tidak perlu lagi mengandalkan orang lain. Selain itu berusaha untuk selalu nersyukur atas apa yang sudah Tuhan Yang Maha Esa berikan.

0 komentar:
Posting Komentar